Medan, 23 September 2026 — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat menjadi perhatian serius dalam dunia akademik, khususnya dalam kajian sejarah dan peradaban Islam. Kehadiran AI telah membawa perubahan besar dalam cara manusia mencari, mengolah, dan menyebarluaskan informasi. Di lingkungan akademik, teknologi tersebut membuka berbagai peluang baru dalam mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pula tantangan terkait keakuratan informasi, kemampuan verifikasi sumber, serta keberlangsungan tradisi keilmuan yang telah diwariskan melalui literatur klasik.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Dialog Ilmu Sosial yang digelar di Aula Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Tuntungan, Rabu (23/9/2026). Kegiatan tersebut mengajak para akademisi dan mahasiswa untuk memahami pentingnya menjaga keterhubungan antara perkembangan teknologi digital dengan kekuatan literatur klasik Islam sebagai salah satu fondasi dalam memahami sejarah dan peradaban Islam.


Forum Dialog Ilmu Sosial merupakan kegiatan pertemuan dua mingguan yang dilaksanakan di Kampus IV Fakultas Ilmu Sosial UINSU Tuntungan. Forum ini menjadi ruang akademik bagi dosen dan mahasiswa untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta membahas berbagai isu yang berkaitan dengan ilmu sosial dan perkembangan pengetahuan. Pada pertemuan kali ini, tema yang diangkat memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin memengaruhi dunia pendidikan dan penelitian.
Kegiatan dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial UINSU. Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Yusra Dewi Siregar dan Defri Ramadhani, Lc., MA. Keduanya memberikan perspektif mengenai posisi literatur Islam dalam menghadapi transformasi teknologi informasi, khususnya dalam penggunaan AI untuk mendukung penelitian dan pembelajaran sejarah peradaban Islam.
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Urgensi Literatur Klasik di Zaman Serba AI terhadap Kajian Sejarah Peradaban Islam”, Dr. Yusra Dewi Siregar menekankan bahwa perkembangan AI telah memberikan berbagai kemudahan bagi dunia akademik. Teknologi AI dapat membantu mempercepat proses pencarian informasi, pengolahan data, penyusunan informasi, hingga membuka akses terhadap berbagai sumber sejarah yang sebelumnya relatif sulit dijangkau.
Menurutnya, perkembangan tersebut merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa maupun peneliti. Namun, kemudahan teknologi tidak boleh membuat proses akademik kehilangan prinsip kehati-hatian. Setiap informasi yang diperoleh melalui AI tetap membutuhkan proses pemeriksaan, pembandingan, dan verifikasi terhadap sumber yang kredibel.
Dr. Yusra menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam kajian sejarah memiliki dua sisi yang perlu dipahami secara seimbang. Di satu sisi, AI dapat menjadi instrumen yang membantu mempercepat pencarian data dan mendukung proses digitalisasi manuskrip-manuskrip kuno. Teknologi digital juga memungkinkan berbagai sumber sejarah untuk diakses oleh lebih banyak orang sehingga dapat memperluas kesempatan penelitian dan pembelajaran.
Namun, di sisi lain, penggunaan AI juga menghadirkan tantangan. Salah satunya adalah munculnya informasi yang dangkal, tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan konteks sejarah. Selain itu, terdapat potensi munculnya referensi palsu atau informasi yang dihasilkan AI secara keliru yang sering dikenal sebagai halusinasi AI. Kondisi tersebut menjadi persoalan penting apabila informasi yang dihasilkan teknologi diterima begitu saja tanpa dilakukan pemeriksaan terhadap sumber aslinya.
“Karena itu, mahasiswa dan peneliti tidak cukup hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk memeriksa dan mengkritisi informasi yang dihasilkan,” menjadi penekanan penting dalam pembahasan tersebut.
Dr. Yusra juga mengingatkan adanya risiko ketergantungan terhadap teknologi yang dapat mengurangi kemampuan mahasiswa dan peneliti dalam melakukan kritik sumber sejarah. Dalam penelitian sejarah, kemampuan membaca konteks, memahami latar belakang sebuah sumber, membandingkan berbagai informasi, serta menilai kredibilitas sumber merupakan bagian penting yang tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada algoritma.
Dalam konteks tersebut, literatur klasik Islam tetap memiliki posisi penting. Karya-karya para ulama dan sejarawan terdahulu, termasuk At-Thabari, Ibnu Katsir, dan Ibnu Khaldun, tetap menjadi bagian penting dalam memahami perjalanan sejarah Islam. Literatur tersebut tidak hanya memuat informasi mengenai berbagai peristiwa masa lalu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana para ilmuwan Muslim terdahulu membangun tradisi keilmuan dan melakukan proses verifikasi terhadap informasi yang mereka terima.
Literatur klasik juga memiliki nilai penting karena menghadirkan metode dan tradisi ilmiah yang berkembang dalam peradaban Islam, termasuk tradisi kritik sejarah dan kritik sanad. Dengan demikian, literatur klasik tidak semata-mata diposisikan sebagai kumpulan teks lama, tetapi juga sebagai bagian dari warisan metodologis yang dapat membantu mahasiswa memahami bagaimana pengetahuan sejarah dibangun dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sementara itu, Defri Ramadhani, Lc., MA, dalam materi bertajuk “Literatur Sejarah Islam”, mengangkat pentingnya literatur Islam sebagai bagian dari warisan peradaban yang menjaga kesinambungan ilmu pengetahuan. Menurutnya, tradisi keilmuan Islam tidak terbentuk secara instan, tetapi berkembang melalui proses panjang yang melibatkan guru, murid, lembaga pendidikan, dan karya-karya ilmiah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Defri menjelaskan bahwa perkembangan tradisi keilmuan Islam antara lain berlangsung melalui proses talaqqi, pendidikan di kuttab, kajian di jami’, serta pendalaman terhadap kitab-kitab karya para ulama terdahulu. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa proses memperoleh ilmu dalam sejarah Islam tidak hanya berkaitan dengan pengumpulan informasi, tetapi juga melibatkan proses pembelajaran, pemahaman, pengujian, dan transmisi pengetahuan.
Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan mengenai berbagai peristiwa yang telah berlalu. Sejarah dapat menjadi jembatan refleksi bagi manusia dalam membangun pemahaman intelektual, emosional, dan spiritual. Melalui sejarah, manusia tidak hanya mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga dapat mengambil pelajaran untuk memahami berbagai persoalan yang dihadapi pada masa kini.
Defri juga menegaskan bahwa literatur Islam memiliki kekuatan karena dibangun melalui hubungan antara akal manusia dan bimbingan wahyu. Tradisi tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam perkembangan keilmuan Islam. Sementara itu, AI memiliki kemampuan yang sangat besar dalam mengolah informasi dalam waktu singkat, tetapi teknologi tersebut tetap merupakan produk manusia yang berfungsi sebagai alat bantu.
Karena itu, AI tidak semestinya ditempatkan sebagai pengganti proses berpikir kritis manusia. Kemampuan teknologi dalam menghasilkan informasi perlu diiringi dengan kemampuan manusia untuk memahami konteks, menilai kebenaran, serta menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan secara bertanggung jawab dalam kegiatan akademik.
Dalam sesi tanya jawab, peserta terlihat antusias mengajukan berbagai pertanyaan. Salah satu perhatian utama peserta adalah bagaimana menjadikan karya-karya klasik Islam tetap relevan dan tidak tergantikan di tengah perkembangan AI yang semakin cepat. Pertanyaan tersebut menunjukkan adanya perhatian mahasiswa terhadap masa depan literatur klasik sekaligus posisi teknologi dalam proses pembelajaran dan penelitian.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Yusra menegaskan bahwa perkembangan AI tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi keberadaan literatur klasik. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan dan memperluas akses terhadap karya-karya klasik kepada generasi saat ini.
AI dapat dimanfaatkan untuk membantu proses digitalisasi, pencarian data, pengorganisasian informasi, maupun pemetaan berbagai sumber sejarah. Dengan dukungan teknologi, literatur klasik yang sebelumnya hanya dapat diakses melalui koleksi tertentu dapat dikembangkan dalam bentuk digital sehingga lebih mudah dimanfaatkan oleh mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat luas.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap membutuhkan peran manusia yang memiliki kompetensi dalam bidang sejarah dan kajian Islam. Literatur klasik menjadi sumber penting, sementara keahlian peneliti diperlukan untuk memahami konteks, melakukan kritik terhadap sumber, serta memastikan bahwa informasi yang digunakan memiliki dasar akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.
Senada dengan Dr. Yusra, Defri Ramadhani juga berpandangan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pendukung dalam pengembangan kajian sejarah Islam. Teknologi dapat membantu proses digitalisasi, pencarian data, dan pemetaan informasi sejarah. Akan tetapi, literatur klasik dan keahlian sejarawan tetap menjadi instrumen utama dalam memastikan akurasi, konteks, serta nilai ilmiah dari suatu kajian.
Diskusi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak harus dipertentangkan dengan tradisi keilmuan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila ditempatkan sesuai dengan fungsi dan porsinya. AI dapat digunakan untuk mempercepat berbagai pekerjaan teknis, sedangkan kemampuan manusia tetap diperlukan untuk memahami, menilai, menginterpretasikan, dan mengkritisi informasi.
Melalui kegiatan ini, Forum Dialog Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial UINSU mendorong sivitas akademika agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi ilmuwan yang mampu mengintegrasikan inovasi digital dengan tradisi keilmuan yang kuat. Kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama dengan kemampuan membaca sumber, berpikir kritis, melakukan verifikasi, dan memahami konteks sejarah.
Di tengah derasnya arus informasi digital dan semakin berkembangnya teknologi kecerdasan buatan, keberadaan literatur klasik tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga kedalaman, keaslian, dan kebermaknaan kajian sejarah peradaban Islam. Pemanfaatan AI diharapkan tidak menghilangkan tradisi membaca dan mengkaji sumber primer, tetapi justru menjadi sarana untuk memperluas akses, mempercepat proses penelitian, serta memperkenalkan khazanah keilmuan Islam kepada generasi yang lebih luas.
Dengan demikian, perkembangan AI dapat ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan panjang perkembangan ilmu pengetahuan. Teknologi menjadi alat yang membantu manusia, sementara tradisi keilmuan, literatur klasik, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab akademik tetap menjadi landasan utama dalam menghasilkan pengetahuan yang berkualitas.
