Medan, 4 November 2026 – Ikatan Alumni Jurusan Ilmu Perpustakaan (IKAJIP) menggelar Webinar Series #2 bertajuk “LibSkill Talk: AI for Librarians – From Prompt to Productivity” pada Rabu (4/11/2026) pukul 19.00 WIB melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang pengembangan kompetensi profesional bagi pustakawan, mahasiswa, alumni, dan pegiat informasi dalam menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin memengaruhi praktik pengelolaan dan pelayanan informasi.
Webinar menghadirkan Dr. Retno Sayekti, M.LIS., Wakil Dekan I sekaligus dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), sebagai narasumber utama. Rangkaian kegiatan dipandu oleh Putri Ardina, S.IP. selaku pembawa acara (Master of Ceremony), serta diawali dengan sambutan Bagus Gigih Permana, S.IP., selaku Ketua IKAJIP.

Mengangkat tema From Prompt to Productivity, kegiatan ini berfokus pada bagaimana pustakawan dapat memanfaatkan teknologi AI generatif secara terarah, mulai dari menyusun instruksi atau prompt yang efektif, melakukan verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan, hingga mengembangkan produk layanan perpustakaan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Penyelenggaraan webinar tersebut mencerminkan perhatian IKAJIP terhadap pentingnya peningkatan kompetensi berkelanjutan bagi lulusan Ilmu Perpustakaan. Perkembangan teknologi AI membuka peluang baru dalam mendukung efisiensi pekerjaan, tetapi pada saat yang sama menuntut pustakawan untuk memiliki kemampuan evaluasi informasi, pemahaman etika digital, serta keterampilan dalam memanfaatkan teknologi secara profesional.
Dari Prompt hingga Produk Layanan Perpustakaan
Dalam pemaparan materinya, Dr. Retno Sayekti mengangkat topik “Implementasi Kecerdasan Artifisial dalam Kerja Profesional Pustakawan, dari Pengelolaan Prompt hingga Produk Layanan”. Pembahasan tersebut menempatkan AI sebagai teknologi pendukung yang dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja, tanpa menghilangkan peran manusia sebagai pengambil keputusan dan penanggung jawab akhir atas informasi yang dihasilkan.
Salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam materi adalah pentingnya memahami hubungan antara tiga tahapan pemanfaatan AI, yaitu prompt, verifikasi, dan produk. Ketiganya menjadi rangkaian yang saling berkaitan dalam memastikan bahwa pemanfaatan kecerdasan artifisial tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan jawaban secara otomatis, tetapi juga mampu memberikan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dan standar profesional.
Penyusunan prompt menjadi tahapan awal dalam mengarahkan AI untuk menjalankan tugas tertentu. Namun, hasil yang diperoleh tidak dapat langsung dianggap akurat tanpa melalui proses evaluasi. Dalam konteks pekerjaan pustakawan, verifikasi menjadi bagian penting karena berkaitan dengan kredibilitas sumber, ketepatan informasi, serta tanggung jawab profesi dalam menyediakan layanan informasi yang dapat dipercaya.
Pendekatan tersebut sekaligus memberikan gambaran bahwa produktivitas berbasis AI tidak semata-mata diukur dari kecepatan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dari kualitas, ketepatan, dan manfaat produk yang dihasilkan.
Kerangka Kompetensi UNESCO sebagai Dasar Pengembangan Keterampilan AI
Dalam materi yang disampaikan, Dr. Retno turut memperkenalkan kerangka kompetensi kecerdasan artifisial yang dikembangkan UNESCO melalui AI Competency Framework for Teachers (2024). Kerangka tersebut memuat 15 kompetensi yang dikelompokkan ke dalam lima dimensi, yakni pola pikir yang berpusat pada manusia, etika AI, fondasi dan aplikasi AI, pedagogi AI, serta pengembangan profesional.
Kelima dimensi tersebut dikembangkan melalui tiga tingkatan kompetensi, yaitu Acquire (memahami dasar), Deepen (memperdalam penerapan), dan Create (menciptakan serta mentransformasi).
Pada tingkat Acquire, pengguna teknologi diarahkan untuk mengenali prinsip dasar kecerdasan artifisial, memahami manfaat dan keterbatasannya, serta membangun kesadaran mengenai pentingnya privasi, hak asasi manusia, dan tanggung jawab etis.
Selanjutnya, tingkat Deepen menekankan kemampuan menerapkan AI secara lebih terarah dalam aktivitas profesional. Pada tahap ini, pengguna diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam proses kerja sekaligus memastikan keputusan penting tetap berada dalam kendali manusia.
Sementara itu, tingkat Create berorientasi pada kemampuan menghasilkan inovasi dan transformasi profesional melalui pemanfaatan AI. Pengguna tidak hanya mengoperasikan teknologi yang tersedia, tetapi juga didorong untuk mengembangkan pendekatan baru yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan masyarakat.
Meskipun kerangka UNESCO tersebut dikembangkan untuk kompetensi pendidik, prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya memberikan perspektif yang relevan bagi pengembangan kapasitas pustakawan, terutama dalam membangun literasi AI, memperkuat tanggung jawab profesional, dan mengembangkan layanan informasi yang adaptif terhadap perubahan teknologi.
Etika AI dan Tanggung Jawab Profesional Menjadi Perhatian Penting
Selain membahas pengembangan kompetensi, webinar ini juga mengangkat persoalan etika penggunaan AI dalam pekerjaan akademik dan profesional. Dalam materinya, Dr. Retno memperkenalkan berbagai ketentuan mengenai penggunaan AI generatif dalam publikasi ilmiah, termasuk contoh kebijakan penerbit internasional Taylor & Francis. Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan AI dalam aktivitas penelitian memiliki batasan yang perlu dipahami oleh akademisi maupun pustakawan.
AI generatif dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyempurnaan bahasa, penerjemahan, eksplorasi ide awal, serta membantu penelusuran referensi. Namun, pengguna tetap bertanggung jawab memeriksa akurasi informasi, memvalidasi sumber rujukan, dan memastikan bahwa penggunaan teknologi sesuai dengan kebijakan penerbit serta prinsip integritas akademik.
Materi tersebut juga menyoroti pentingnya transparansi dalam penggunaan AI, khususnya ketika teknologi dimanfaatkan dalam metodologi penelitian, visualisasi data, dan pengolahan informasi yang berkaitan dengan publikasi ilmiah.
Dalam konteks perpustakaan, pemahaman tersebut memiliki arti penting karena pustakawan memiliki peran dalam mendukung kegiatan penelitian, memberikan layanan referensi, serta meningkatkan literasi informasi pengguna. Oleh karena itu, keterampilan menggunakan AI perlu diimbangi dengan kemampuan mengidentifikasi kesalahan informasi, menjaga kerahasiaan data, dan memahami batasan penggunaan teknologi.
Perkembangan AI tidak serta-merta mengurangi relevansi profesi pustakawan. Sebaliknya, teknologi ini membuka ruang bagi pustakawan untuk memperkuat perannya sebagai pengelola informasi, pendamping literasi digital, dan fasilitator pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
LibSkill Talk sebagai Ruang Pembelajaran Berkelanjutan
Melalui penyelenggaraan Webinar Series #2, IKAJIP berupaya menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan dengan perubahan kebutuhan kompetensi profesi pustakawan. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan perkembangan teknologi, tetapi juga mendorong peserta untuk memahami bagaimana AI dapat digunakan secara kritis, etis, dan produktif dalam lingkungan kerja.
Tema AI for Librarians: From Prompt to Productivity menjadi pengingat bahwa kemampuan memanfaatkan teknologi tidak cukup hanya dengan mengetahui cara mengoperasikan aplikasi. Pustakawan perlu memahami kebutuhan informasi, menyusun instruksi yang tepat, mengevaluasi keluaran teknologi, serta mengembangkan hasilnya menjadi layanan yang bermanfaat bagi pengguna.
Kehadiran Dr. Retno Sayekti sebagai narasumber turut memperkuat hubungan antara lingkungan akademik dan komunitas alumni Ilmu Perpustakaan dalam mendukung pengembangan kompetensi profesional. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pembelajaran sepanjang hayat bagi pustakawan, khususnya dalam menghadapi transformasi layanan informasi berbasis digital.
Melalui kegiatan ini, IKAJIP diharapkan terus mengembangkan program edukatif yang mempertemukan akademisi, alumni, mahasiswa, dan praktisi perpustakaan. Penguatan kompetensi AI menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan pustakawan yang tidak hanya mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab etis, dan orientasi pelayanan yang kuat.
LibSkill Talk Series #2 sekaligus menegaskan bahwa masa depan profesi pustakawan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mengelola, memverifikasi, dan memanfaatkan informasi secara bertanggung jawab. Dengan keterampilan yang tepat, AI dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kualitas layanan perpustakaan di era digital.
