Jejak Sejarah, Peluang Masa Depan: Prodi Sejarah Peradaban Islam UINSU Gelar Stadium General Bersama Akademisi Mesir dan BPK Wilayah II

Medan, 27 Oktober 2026 – Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), menyelenggarakan Stadium General bertajuk “Jejak Sejarah, Peluang Masa Depan: Sinergi BPK Wilayah II dengan Sarjana SPI” pada Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk memperluas wawasan kesejarahan sekaligus memperkenalkan peluang pengembangan kompetensi dan kontribusi lulusan Sejarah Peradaban Islam dalam bidang pelestarian kebudayaan dan warisan sejarah.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber internasional, Dr. El Shahat Ibrahim El-Sayed Ahmed dari Mansoura University, Mesir, serta dua pembicara utama (keynote speaker) dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumatera Utara, yakni Mayca Sita Nurdiana, S.Si., M.A. dan Nasrul Hamdni, S.S., M.A.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Dr. Hotmatua Paraliha, M.Ag., kemudian dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial UINSU, Dr. Retno Sayekti, M.LIS.

Penyelenggaraan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Program Studi Sejarah Peradaban Islam dalam memperkuat hubungan antara pembelajaran akademik dengan kebutuhan dunia profesional. Melalui keterlibatan akademisi internasional dan lembaga pemerintah yang bergerak dalam pelestarian kebudayaan, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman mengenai perkembangan kajian sejarah sekaligus melihat ruang kontribusi keilmuan mereka setelah menyelesaikan pendidikan.

Menggali Dinamika Peradaban Islam melalui Sejarah Dinasti Ziyariyah

Dalam sesi akademik internasional, Dr. El Shahat Ibrahim El-Sayed Ahmed dari Mansoura University, Mesir, menyampaikan materi mengenai “Dinasti Ziyariyah di Jurjan dan Tabaristan: Dinamika Politik, Peradaban, dan Warisan Budaya (928–1090 M)”.

Pemaparan tersebut mengajak peserta menelusuri perkembangan salah satu dinasti regional dalam sejarah dunia Islam yang pernah berkuasa di kawasan Jurjan dan Tabaristan, wilayah yang terletak di sekitar pesisir selatan Laut Kaspia. Keberadaan wilayah ini memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari jalur perdagangan, pertemuan budaya, dan persaingan politik antarkekuatan regional pada masa kekhalifahan Abbasiyah.

Dalam penjelasannya, Dr. El Shahat menguraikan bahwa kemunculan Dinasti Ziyariyah tidak dapat dilepaskan dari melemahnya kekuasaan politik Abbasiyah dan berkembangnya dinasti-dinasti regional yang memiliki otonomi pemerintahan. Dinasti ini didirikan oleh Mardawij bin Ziyar, yang membangun kekuatan politik dan militer di kawasan tersebut pada abad ke-10 Masehi.

Perjalanan Dinasti Ziyariyah selanjutnya mengalami berbagai dinamika di bawah kepemimpinan para penguasanya, termasuk Wushmgir bin Ziyar, Bistun bin Wushmgir, dan Qabus bin Wushmgir. Pergantian kepemimpinan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah dinasti berupaya mempertahankan kekuasaan di tengah persaingan politik dengan Dinasti Samaniyah, Buwaihiyah, Ghaznawiyah, hingga meningkatnya pengaruh Dinasti Seljuk.

Menariknya, kajian mengenai Dinasti Ziyariyah tidak hanya menyoroti perkembangan kekuasaan dan konflik politik, tetapi juga memperlihatkan kontribusi dinasti tersebut terhadap kehidupan sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Dalam aspek ekonomi, kawasan Jurjan dan Tabaristan memiliki kegiatan pertanian dan perdagangan yang berkembang melalui jalur-jalur penghubung dengan Khurasan. Sementara itu, kehidupan masyarakatnya memperlihatkan keberagaman kelompok etnis, bahasa, dan tradisi keagamaan yang turut membentuk karakter peradaban di wilayah tersebut.

Dr. El Shahat juga membahas warisan intelektual dan budaya yang berkembang pada masa Dinasti Ziyariyah. Salah satu peninggalan penting yang menjadi perhatian adalah karya sastra Persia Qabus Nama, yang ditulis oleh Kaykaus bin Iskandar dan mengandung nilai-nilai pendidikan, etika, serta pandangan mengenai kehidupan sosial. Selain itu, Menara Qabus menjadi salah satu contoh warisan arsitektur yang merepresentasikan pencapaian budaya dan peradaban pada masa tersebut.

Melalui kajian ini, peserta memperoleh perspektif bahwa sejarah peradaban Islam tidak hanya berkaitan dengan perkembangan kekhalifahan besar, tetapi juga melibatkan kontribusi berbagai dinasti regional yang memiliki peran penting dalam pembentukan tradisi politik, ilmu pengetahuan, sastra, dan kebudayaan Islam.

Sinergi BPK Wilayah II dan Sarjana SPI dalam Pelestarian Warisan Budaya

Selain memperkaya wawasan sejarah Islam melalui perspektif internasional, Stadium General ini juga menempatkan pengembangan kompetensi dan peluang masa depan lulusan sebagai salah satu perhatian utama.

Kehadiran Mayca Sita Nurdiana, S.Si., M.A. dan Nasrul Hamdni, S.S., M.A. dari BPK Wilayah II Sumatera Utara menjadi kesempatan untuk mempertemukan kajian sejarah di perguruan tinggi dengan bidang pelestarian kebudayaan yang memiliki keterkaitan erat dengan kompetensi sarjana Sejarah Peradaban Islam.

Sebagai lembaga yang memiliki tugas dalam pelestarian kebudayaan, BPK merupakan salah satu institusi yang relevan dengan pengembangan keilmuan sejarah, terutama dalam upaya identifikasi, pendokumentasian, pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya.

Dalam konteks tersebut, lulusan Sejarah Peradaban Islam memiliki potensi kontribusi melalui kemampuan penelusuran sumber sejarah, kajian historiografi, analisis perkembangan masyarakat, penelitian situs bersejarah, hingga dokumentasi warisan budaya Islam yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Keterampilan tersebut menjadi modal akademik yang dapat dikembangkan untuk mendukung berbagai kegiatan penelitian dan pelestarian kebudayaan. Pemahaman sejarah yang kuat perlu dipadukan dengan kemampuan penelitian lapangan, pengelolaan dokumentasi, interpretasi sumber, dan komunikasi publik agar hasil kajian sejarah dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Tema sinergi antara BPK Wilayah II dan sarjana SPI juga membuka ruang pemikiran mengenai pentingnya hubungan berkelanjutan antara perguruan tinggi dan lembaga pelestarian kebudayaan. Hubungan tersebut berpotensi dikembangkan melalui kegiatan penelitian bersama, praktik lapangan, pendokumentasian situs sejarah, pengembangan edukasi kebudayaan, serta penguatan kapasitas mahasiswa dalam bidang pelestarian warisan budaya.

Dengan demikian, sejarah tidak hanya dipahami sebagai kajian mengenai peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai bidang keilmuan yang memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan masyarakat dalam menjaga identitas, memelihara ingatan kolektif, dan melestarikan kekayaan budaya bangsa.

Memperluas Perspektif Global dan Mempersiapkan Masa Depan Lulusan

Penyelenggaraan Stadium General ini memperlihatkan dua dimensi penting dalam pengembangan keilmuan Sejarah Peradaban Islam. Di satu sisi, kehadiran akademisi Mansoura University, Mesir, memperkaya perspektif mahasiswa terhadap dinamika sejarah Islam dalam konteks global. Di sisi lain, keterlibatan BPK Wilayah II Sumatera Utara memberikan relevansi praktis terhadap pengembangan kompetensi dan peluang kontribusi lulusan dalam bidang pelestarian kebudayaan.

Integrasi kedua perspektif tersebut menjadi penting agar mahasiswa tidak hanya memiliki penguasaan teori dan pengetahuan sejarah, tetapi juga mampu memahami bagaimana kompetensi keilmuannya dapat diterapkan dalam berbagai bidang profesional.

Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan minat penelitian, memperkuat kemampuan analisis sejarah, serta membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga dan memperkenalkan warisan peradaban kepada generasi mendatang.

Melalui pelaksanaan Stadium General ini, Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ilmu Sosial UINSU berupaya menghadirkan ruang pembelajaran yang menghubungkan kekayaan kajian sejarah dengan peluang masa depan. Sinergi akademik internasional dan keterlibatan lembaga pelestarian kebudayaan diharapkan mampu memperkuat pengembangan pendidikan, penelitian, serta kontribusi lulusan SPI dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa mempelajari sejarah bukan semata-mata memahami peristiwa masa lalu, melainkan juga membangun pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran yang dapat menjadi bekal dalam menghadapi tantangan masa depan.