Semarak HUT RI Ke-81 di UIN Sumatera Utara

Lapangan Kampus UIN Sumatera Utara, 17 Agustus 2026 — Ada yang berbeda dari pagi itu. Belum pukul tujuh, lapangan kampus sudah dipenuhi warna: ulos yang melingkar di bahu, songket kuning keemasan, tenun merah marun, kebaya renda putih, dan peci hitam berpasangan dengan sarung tenun. Upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di UIN Sumatera Utara tahun ini bukan sekadar barisan rapi dan aba-aba tegas — ia adalah pawai busana adat Nusantara yang hidup, dan Fakultas Ilmu Sosial ada di tengah-tengahnya dengan semangat paling menyala.

Berbalut Warisan Budaya

Instruksi panitia sederhana: kenakan pakaian adat Nusantara. Hasilnya luar biasa. Dari satu barisan saja, Indonesia seakan hadir utuh — ulos Batak dengan motif geometris yang tegas, tenun Sumba, songket Melayu berkilau kuning, teluk belanga, beskap lurik Jawa, tenun bernuansa merah tanah, hingga kebaya putih yang anggun. Setiap kain punya cerita, setiap corak punya kampung halaman. Dan pagi itu, semuanya berdiri berdampingan menghadap Sang Merah Putih.

Ketika bendera perlahan naik dan Indonesia Raya berkumandang, lapangan seketika hening. Delapan puluh satu tahun kemerdekaan terasa dekat: bukan sebagai angka di buku sejarah, melainkan sebagai kain yang menempel di badan dan lagu yang menggetarkan dada.

Seusai Upacara, Lapangan Berubah Jadi Panggung Sorak

Barisan upacara belum sepenuhnya bubar ketika suasana sudah berganti total. Sepatu formal ditukar sepatu olahraga, kain adat berganti kaus merah dan celana putih, topi lebar dipasang untuk melawan matahari Medan yang sedang bersemangat. Tim Fakultas Ilmu Sosial turun ke lapangan — dosen, tenaga kependidikan, bapak-bapak, dan ibu-ibu — semuanya dengan satu misi: menang, atau setidaknya tertawa sepuasnya.

Di latar, spanduk besar bertuliskan “Dirgahayu Republik Indonesia Ke-81 Tahun — Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” menjadi saksi. Bendera-bendera kecil bergoyang tertiup angin. Pengeras suara mulai memanggil nama-nama peserta. Perlombaan dimulai!

Memindahkan Tepung: Serius Tapi Seru!

Inilah bintang acara hari itu. Aturannya terdengar mudah — pindahkan tepung di atas piring plastik dari peserta terdepan ke peserta paling belakang, lewat atas kepala, tanpa menoleh. Kenyataannya? Jauh lebih rumit dan seribu kali lebih lucu.

Tepung tumpah ke kerudung. Tepung mendarat di wajah. Tepung masuk ke kerah baju. Ada yang tertawa sampai tangannya gemetar sehingga piringnya makin miring, ada yang berteriak memberi komando, ada yang diam-diam curi pandang ke belakang dan langsung diprotes lawan. Sorak penonton menyatu dengan tawa peserta, dan dalam hitungan menit lapangan dipenuhi peserta berwajah putih — bukan karena bedak, tetapi karena tepung.

Tim bapak-bapak dan tim ibu-ibu Fakultas Ilmu Sosial sama-sama tampil habis-habisan. Strategi disusun serius seperti rapat kerja, lalu buyar begitu tepung pertama tumpah. Tidak ada yang keberatan. Justru di situlah letak kemenangannya.

Lari Karung: Terjatuh dan Bangkit Lagi

Tak kalah seru, arena lari karung menghadirkan drama tersendiri. Kaki masuk karung, badan condong ke depan, lalu — melompat! Beberapa langkah pertama biasanya berjalan mulus. Setelah itu, hukum keseimbangan mulai bekerja dan lapangan pun dipenuhi peserta yang terguling sambil tertawa.

Yang jatuh tidak menyerah. Mereka bangkit, membetulkan karung, dan melompat lagi diiringi tepuk tangan rekan-rekan sefakultas. Ada pelajaran kecil yang tanpa sengaja tersampaikan di sana: kemerdekaan pun ditempuh dengan jatuh, bangun, dan terus melompat ke depan.

Lebih dari Sekedar Piala

Ketika matahari mulai tinggi dan peluit terakhir berbunyi, tim Fakultas Ilmu Sosial berkumpul untuk berfoto bersama. Baju masih bertabur tepung, napas masih tersengal, tetapi senyum terpasang lebar di setiap wajah. Jempol teracung, jari membentuk tanda cinta, dan kamera pun berhasil merekam sesuatu yang lebih berharga daripada hasil pertandingan: kebersamaan.

Di lapangan itu, sekat jabatan dan usia menguap begitu saja. Pimpinan, dosen senior, dosen muda, dan tenaga kependidikan duduk di rumput yang sama, tertawa untuk lelucon yang sama, dan berebut piring tepung yang sama. Inilah wajah lain dari sebuah fakultas — hangat, cair, dan penuh persaudaraan.

Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Fakultas Ilmu Sosial hari itu ditutup dengan wajah-wajah puas dan baju yang perlu segera dicuci. Semangat kemerdekaan tidak selalu hadir dalam bentuk pidato panjang; kadang ia hadir sebagai tepung yang tumpah, karung yang terguling, dan tawa yang meledak bersama-sama di bawah langit Merah Putih.

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-81. Merdeka!